Kamu Rumah Baginya.

Akan ada waktunya saat kamu dipertemukan dengan dia oleh Tuhan. Status “asing” lambat laun meluruh dan membentuk hubungan baru, sebut saja sahabat, uhm.. atau kawan?

Kamu tau bagaimana Tuhan itu Maha Baik. Kamu bisa merasakan bagaimana membutuhkan dan dibutuhkan seseorang. Bagaimana jatuhnya dirimu, kamu selalu punya lengan untuk digenggam dan kembali bangkit. Kamu selalu punya tubuh untuk saling merengkuh sekedar melepas rasa, juga untuk saling menguatkan. Kamu selalu punya sepasang telinga setia untuk setiap keluh kesah dan cerita dari mulutmu.

Kamu memilikinya.

Ya, kamu memilikinya.

Hati akan rapuh jika tak bisa menahan sakitnya busur yang menusuk tajam.

Kamu dan dia. Kamu dan milikmu. Tersekatkan oleh jarak, oleh benda “asing” yang tiba-tiba datang, oleh waktu, oleh apa pun itu.

Kamu tak punya lengan untuk kamu genggam. Kamu tak lagi punya tubuh untuk saling merengkuh. Kamu tak punya telinga untuk mendengarmu.

Dia menghilang.

Dia pergi.

Kamu harus menjalani masa-masa sulit tanpa dia. Kamu terluka, tapi tetap bertahan. Kamu ditinggalkan, tapi tetap menunggu.

Kamu yakin dia datang.

Kamu yakin dia pulang.

Kamu lalu merapal doa kepada Tuhan, bahwa segala yang milikmu pasti akan kembali seberapa pun jauhnya. Sesulit apa pun ujiannya. Selama apa pun waktunya.

Kamu melihat dia dengan yang lain. Saat itu, kamu masih yakin bahwa kamu adalah rumah untuk dia pulang. Dan mungkin saja, saat itu pula, dia tidak lagi menganggap kamu sebagai rumahnya.

Sekarang kamu ditinggalkan.

Kamu tidak lagi bercerita banyak dengannya. Tapi, kamu mendengar banyak cerita tentangnya. Kamu mendapat kabarnya dari orang lain. Sebelumnya, kamu orang pertama yang tau apa pun tentangnya.

Sakit, huh?

Semakin lama, kamu kembali bertegur sapa dengannya. Kamu tau keadaannya dari mata dan telingamu sendiri. Tapi, hanya sekedar itu. Selebihnya, tentang hal yang lebih privasi, kamu masih mendengarnya dari orang lain–kamu masih menerka dan berasumsi.

Tapi, kamu masih yakin, kamu adalah rumah untuknya pulang.

Kamu masih membuka pintu lebar-lebar untuknya kembali.

Kamu masih berharap. Selalu berharap.

Kamu masih merapal doa. Selalu merapal doa.

Sekarang, keadaan berubah lagi.

Dia, temanmu–kawanmu–sahabatmu, pulang ke rumahnya. Dia kembali padamu. Dia sadar betapa kamu selalu ada. Kamu selalu bertahan.

Kamu berhasil, eh?

Kamu sudah mendapatkannya lagi. Lukamu telah sembuh. Sakitmu telah pulih. Hanya dengan kehadirannya.

[B]ahagiamu, sesederhana itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s