Hey, ya little buddies!

Beberapa minggu lalu, gue dapet kesempatan buat menjadi volunteer di Sekolah Binaan yang berada di daerah Mojosongo, Surakarta. Jujur, gue cukup tertarik sama kegiatan ini mengingat dulu pernah bercita-cita jadi guru, hehehe.

Dua hari sebelum gue bener-bener menjadi volunteer, gue melakukan briefing dengan para kakak tingkat yang sebelumnya udah berpengalaman mengajar di Sekolah Binaan itu. Gue dapet banyak cerita dari mereka yang secara nggak langsung membuat gue tertarik sekaligus agak-takut-atau-panik-sedikit. Kenapa?

Okay, gue akan mencoba buat jelasin bagaimana kelakuan dan perintilan lainnya tentang murid-murid di Sekolah Binaan menurut kakak tingkat gue.

Bandel. Entahlah, iya sih, bener. Mungkin kalo kata “bandel” terlalu kasar, “rame dan petakilan” pas buat mereka. Ya emang nggak semua berkelakuan kaya gitu. Tapi hampir semua.

Problem reading. Ini nggak mendominasi, sih. Beberapa aja yang belum lancar baca.

Language. Lemah berbicara Bahasa Indonesia namun mengerti maksud orang lain saat menggunakan Bahasa Indonesia. Iya, gitu pokoknya.

Akhirnya, sampailah pada hari di mana gue pertama kali seara real ngajar anak-anak di kelas. Nggak ngajar juga, sih. Lebih ke ngajak main sambil belajar kali, ya?

Perjalanan nggak jauh pun deket, tapi lumayan jauh deng, soalnya panas. Jadi berasa.

Terus sampai di sana, ternyata gue sedikit tertinggal sama temen-temen yang lain. Gue langsung di suruh masuk ke dalam kelas tiga. Iya, tanpa dikasih arahan terakhir, tanpa dikasih tip terakhir.

Gue agak nervous mengingat kesan dari kakak tingkat gue yang terlihat cape-banget-bor-di-sekbin. Gue mengucap basmalah lalu menekan gagang pintu dan masuk.

Astagfirullaah, ini ada pasar apa?

Gue ga ngerti. Itu pasar atau konser. Berisik like.. berisik banget! Gue udah mau keluar aja rasanya. Tapi, ya kali.

Singkatnya setelah kenalan dan pembagian kelompok, gue mainan aja gitu sama anak-anak di sana. Little buddies, im sorry for forgetting every single name of you. You know i love ya. Okay?

Ada lima orang anak yang gue handle. Jadi ceritanya, gue ngajak mereka mencocokkan gambar dan kata gitu. Gambar apel sama apple. Iya, gitu.

Tapi mereka lancar-lancar aja, sih. Gue nggak merasakan ada problem reading and language problem berarti di mereka. Justru, mereka malah ngasih gue tebak-tebakan buah.

“Mbak, tebak aku ya. Buah warna hijau, bundar, punya kaki. Apa itu?”

Makasih loh, dek. Buah mana yang punya kaki. Ahahaha, thankyou!

Seru. Banget.

Gue seneng. Mereka rame tapi ramah. Bandelnya nggak anarkis banget. Cuma ada satu-dua yang berantem sampe pukul-pukulan. Sisanya, they grow up like they should be.

Gue ngasih mereka permen as a reward buat yang aktif atau punya inisiatif belajar dan bisa ngerjain teka-teki yang gue kasih. Sisanya, gue kasih sebagai motivasi biar mereka jadi lebih rajin lagi.

Thankyou dear little buddies! For the happiness, for the great experience, for the smile, for the warmth y’all gave, and for teaching me a little thing about life.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s