Way Back Home [2]

“Ngebutan dikit kek, nyet.”

“Sabar, nyet. Lo mau nabrak apa gimana sih udah tau macet!”

Keira dan Raka sedang berpacu dengan waktu karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi dan mereka sedang tidak ingin berlari memutar lapangan tiga kali. Yakali pagi-pagi udah lepek bau keringet.

“Telat kan, elo sih make sepatu segala diiket dulu.” tukas Raka setelah keduanya selesai mengisi buku poin pelanggaran.

“Lah elo anjir jemput gue juga tadi telat kan.”

“Abis lari nggak mau tau bayarin gua milo dua.”

“Dih ngapa jadi gue njir.”

Belum selesai keduanya bertengkar, datang seseorang terasa tidak asing untuk Keira. Kayak kenal?

“Heh ngapa bengong? Ayo siap-siap lari bego.” sahut Raka menyadarkan Keira.

Masih memerhatikan lelaki itu–oke, ia ingat sekarang, namanya Chan. Entah siapa nama lengkapnya–melewatinya dan mengisi buku poin pelanggaran. Keira sudah bersiap ingin menyapa Kak Chan sampai laki-laki itu dengan santainya langsung berjalan menuju tangga.

“Lah lah kok itu nggak ikut lari?” tanya Keira lebih kepada dirinya sendiri.

“Hah, siapa?”

“Itu, Kak Chan. Tadi dia ngapain abis ngisi langsung ke kelas. Wah enak banget gue mau protes.”

Raka hanya menggeleng bingung, tidak mengerti maksud Keira karena ia tidak memerhatikan Chan Chan itu.

“Pak, kok tadi dia nggak disuruh lari juga sih? Lah kan telatnya lebih parah dari saya?” protes Keira.

“Udah kamu lari aja sana.”

“Tapi kan pak, nggak adil dong? Mentang-mentang kelas dua belas apa gimana? Keenakan dong pak masa boleh telat.”

“Kamu dari tadi kalo nggak protes udah dapet dua putaran tau nggak? Lari sekarang apa engga?” ucap Pak Gatra dengan wajah serius-yang-nggak-bisa-diajak-kompromi.


“Kak.” sapa Keira begitu melihat Chan di sampingnya sedang memesan makanan juga di kantin.

Namun yang disapa malah cuek bebek. Sombong banget lah.

“Yee, sombong.”

“Jas ujannya gue bawa tuh.”

“Di mana?”

“Motor lah ngapain bawa-bawa ke kantin.”

“Ya masa gue ambil ke parkiran, mager.”

Tanpa membalas ucapan Keira, Chan langsung melenggang pergi membawa makan siangnya. Dih, belagu banget.

“Napa si muka lo jelek banget. Kelaperan ya lo kelamaan antre?” tanya Raka begitu Keira kembali ke tempat duduknya membawa makan siangnya, “tuh, ada orang belagu!” tukas Keira.

“Siapa sih?”

“Tuh anak kelas dua belas yang tadi nggak dihukum pas telat. Gue ajak ngomong malah langsung pergi dikira gue apaan.”

Raka tertawa, sahabatnya ini kalau lagi badmood memang harusnya dikasih makan, “emang lo kenal?” tanya Raka.

“Kenal lah, kan kemarin ketemu pas gue mau ke ruangan Tante El.” jawab Keira lalu seketika menutup mulutnya karena keceplosan. Mampus njir.

“Ngapain ke sana deh? Dia… sakit?” tanya Raka menyelidik.

“Harusnya gue nggak boleh ngomong sih soalnya kemarin dia bilang nggak mau kalo orang-orang tau dia ke psikolog. Tapi, yah, gue nggak tau sih dia kenapa kan tante gue mana mau ngasih tau.”

“Yaudah lah urusan dia, makan ae makan.”


Keira tiba-tiba memikirkan kembali percakapannya tadi dengan Raka di kantin. Iya juga, ya, kalau nggak sakit atau ada gangguan gitu, ngapain juga pake terapi? Ish bikin kepo gue kumat aja deh masalah beginian, rutuk Keira dalam hati.

Tiba-tiba ponsel Keira bergetar menandakan ada LINE masuk.

Raka Pratama Y. : Oi kosong nggak? Kantin lagi yuk?

Keira : Gue fisika anjeng:( cabut mulu lo enak bgt

Raka Pratama Y. : mampus makan tuh rumus sore-sore ujan enaknya makan bakso sih hehe yauda sana belajar yang bener ya sayang, ga capek apa remed mulu idup lo kalo fisika.

Keira : bodoamat nyet.

Raka Pratama Y. : Eh jas ujan gue bawa kan? Ujan nih entar gue mau langsung caw ke GOR soalnya sparing

Lah iya lupa kan masih di Kak Chan, rutuknya.

Keira: Di kak Chan hehe kan yang kemarin gue pinjemin itu buat dia

Raka Pratama Y. : Ambil ya syg. AWAS AE.

Setengah jam kemudian bel pulang sekolah berbunyi, Keira tergesa-gesa menuju parkiran menunggu Kak Chan untuk mengambil jas hujan Raka, “ini motornya yang mana juga gue nggak tau, orangnya mana si lama banget.”

Setelah beberapa lama, Keira melihat Kak Anin dan pacarnya menuju parkiran. Kebetulan ia dan Kak Anin satu ekskul paduan suara, “Kak Aniiiin!”

“Eh, napa, Ra?”

“Kenal sama anak kelas dua belas yang namanya Chan nggak?”

“Chan? Ipa apa ips? Cewe?”

“Aduh aku nggak tau kelasnya tapi dia cowo kok.”

“Aku nggak kenal sih, bukan anak ipa kali? Kamu kenal nggak, Yos? Anak ips kali..” tanya Kan Anin kepada pacarnya yang sedang menggunakan jaketnya.

“Chan maksudnya Chandra?” tanya Kak Yosi.

“Eh,  yah, nggak tau juga sih kak soalnya aku cuma tau dia dipanggil Chan.”

“Setau gue adanya Chan ya Chandra sih sekelas sama gue. Tapi dia dipanggilnya Ndra kalo di kelas. Nggak tau deh yang lo maksud apa bukan.”

“Iyaudah Chandra kali. Dia di mana ya kak? Urgent nih..”

“Di UKS tadi abis makan siang dia izin.”

Keira melesat menuju UKS sambil berdoa agar yang dimaksud kak Yosi dengan Ndra adalah Chan yang ia maksud.

Keira masuk ke dalam UKS dan membuka satu-satunya tirai yang tertutup, secara perlahan untuk memastikan di dalamnya ada Kak Chan,  “Kak Chan? Di dalem nggak?” panggil Keira pelan.

Merasa tidak ada jawaban, Keira memutuskan untuk membuka tirai tersebut dan yang ia lihat adalah Kak Chan.

Kak Chan yang sedang memandangi silet yang kini menempel di lengan kiri, membuat Keira berpikir lelaki itu ingin bunuh diri.

“Kak lo ngapain?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s